Perpustakaan, dahulu, kini dan mendatang
Sulistyo-Basuki
Pendahuluan
Panitia UI Bookfest 2007 meminta saya untuk ikut diskusi dengan topik “Perpustakaan dahulu, kini dan nanti”. Topik tersebut menarik namun sayangnya panitia tidak memberikan semacam kerangka rujukan menyangkut apa yang akan dibahas dalam diskusi tersebut untuk memudahkan pembicara membuat karangan atau mempersiapkan kerangka diskusi. Di segi lain mungkin panitia tidak memahami apa yang akan didiskusikan sehingga topik diskusi diserahkan sepenuhnya kepada para pembicara. Karena ketiadaan kerangka acuan, maka makalah ini dibuat sesuai dengan pandangan penulis.
Paradigma
Pembahasan sesuai topik di atas dapat dilihat dari bermacam-macam pendekatan, misalnya pendekatan koleksi, jasa, sejarah, manajemen dll. Karena ketiadaan panduan, maka makalah ini hanya membahas pandangan perpustakaan terhadap koleksinya dipandang dari sejarah perpustakaan.
Sebelum membahas pandangan tersebut, ada baiknya kita memahami arti paradigma. Istilah paradigma berasal dari kata Yunani paradeigma artinya memperagakan atau mendemonstrasikan.
Istilah tersebut dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya berjudul The Structure of Scientific Revolutions. Dalam buku tersebut, Kuhn mendefinisikan sebuah paradigma ilmiah sebagai :
-Apa yang diamati serta diamati dengan cermat
-Jenis pertanyaan yang akan diajukan dan dijelajah untuk emncari jawaban dalam kaitannya dengan subjek
-Bagaimana pertanyaan tersebut akan distruktur
-Bagaimana hasil kajian ilmiah akan ditafsirkan
Bila kita memeriksa Oxford English Dictionary, maka dalam entri paradigma dinyatakan sebagai sebuah model atau pola, sebuah contoh. Jadi bila tambahkan ke definisi Kuhn menyangkut batasan paradigma, maka hasilnya ialah bagaimana sebuah eksperimen dilakukan serta peralatan apa yang digunakan untuk melaksanakan eksperimen.
Jadi dalam sains normal (normal science), paradigma merupakan himpunan eksperimen contoh yang mungkin akan akandigandakan atau diulang, Kuhn menhgatakan konsep paradigma kurang cocok untuk ilmu pengetahuan sosial karena ilmuwan bidang tersebut tidak pernah sepakat mengenai teori atau konsep. Hal tersebut diperkuat oleh Mattei Dogan yang mengatakan tidak ada paradigma dalam ilmu pengetahuan sosial karena konsep paradigma bersifat polisemi artinya memiliki banyak makna.
Bila pada ilmu pengetahuan sosial saja yang telah mapan dengan berbagai teori dibandingkan dengan ilmu perpustakaan dan informasi, maka dalam ilmu perpustakaan dan informasi tidak akan ada paradigma. Namun demikian pengertian paradigma dapat ditafsirkan sebagai kerangka berpikir dan pengertian itu lah yang diterapkan di sini menyangkut sikap pustakawan terhadap kegiatannya.
Perubahan paradigma
Sebagai sebuah kerangka berpikir, paradigma dapat berubah. Bila menggunakan istilah Kuhn disebut “paradigm shift”. Dia menulis bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak bersifat revolusioner melainkan lebih pada “sries of peaceful interludes punctuated by intellectually violent revolutions’ dan yang disebut “revolutions” ialah “one conceptual world view is replaced by another’ (Kuhn, 1970). Maka perubahan paradigma dianggap sebagai sebuah perubahan dari satu cara berpikir ke cara berpikir laiinya. Perubahan itu merupakan transformasi yang ditimbulkan oleh agen perubahan (katalis) dengan efek akhir berupa metamorfosa yang melibatkan pengetahuan sebelumnya dan temuan baru yang menentang atau membuang pengetahuan sebelumnya.
Perubahan paradigma tidak terbatas pada sains saja. Perubahan tersebut berlaku di bidang lain, misalnya dalam bidang politik. Kita menyaksikan pasca-Perang Dunia II terjadi Perang Dingin antara blok Barat melawan blok Timur. Kita menyaksikan pula bahwa pada tahun 1991 Uni Soviet bubar, pecah menjadi Rusia beserta negara-negara baru. Kita menyaksikan perubahan pemikiran politik AS dari kebijakan “containment” atau pengepungan yang diambil AS ketika menghadapi Uni Soviet berubah menjadi pendekatan “pre-emptive”, lalu berubah lagi sejak Uni Soviet bubar (Huntington, 1996)
Perubahan cara pikir demikian terjadi juga di lingkungan perpustakaan, misalnya di perpustakaan perguruan tinggi. Gedung perpustakaan yang semula merupakan tempat belajar dan membaca saja kini berubh dilengkapi dengan fasilitas lain misalnya ruang konperensi, laboratorium komputer umum, ruang seminar, kafe, galeri seni, auditorium, lab menulis (Boone, 2003).
Paradigma perpustakaan dalam sejarah
Secara sederhana perpustakaan ialah kumpulan buku dan materi lainnya yang ditata untuk digunakan untuk pemakai. Definisi sederhana tersebut dapat diterapkan pada perpustakaan purba sampai sekarang. Perpustakaan awal berasal dari Sumeria, koleksinya lebih tepat disebut arsip karena perpustakaan hanya menyimpan transaksi dagang , inventaris serta sedikit materi perpustakaan menyangkut teologi, sejarah dan legenda.
Paradigma perpustakaan purba nampak jelas pafa perpustakaan Alexandria yang didirikan oleh dinasti Ptolemaeus. Kerangka pikir pustakawan purba ialah mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya serta sedapat mungkin materi tidak boleh meninggalkan perpustakaan alias tidak dipinjamkan. Cara pikir demikian nampak dari tindakan Ptolemaeus yang berkuasa di Mesir. Setiap kali ada kapal berlabuh, penguasa selalu memeriksa apakah kapal tersebut mengangkut manuskrip atau tidak. Bila diketemukan manuskrip, maka manuskrip dibawa ke perpustakaan, disalin kemudian salinannya dikembalikan sedangkan manuskrip asli menjadi milik perpustakaan.
Paradigma mengumpulkan materi perpustakaan sebanyak-banyaknya didukung kerajaan dengan pelarangan ekspor rumput papirus sebagai bahan pustaka ke negara lain. Tujuannya ialah agar perpustakaan Alexandria tetap unggul dalam koleksi karena negara lain tidak memiliki rumput papyrus sebagai bahan pustaka. Larangan itu menimbulkan reaksi dengan upaya mencari bahan pengganti. Maka muncullah bahan pustaka seperti vellum, perkamen yang dikembangkan oleh kerajaan Pergamo. Karena keterbatasan sapi dan biri-biri untuk dijadikan bahan pustaka, maka kerajaan di luar Mesir tidak mampu menandingi perpustakaan Alexandria dalam jumlah bahan pustaka.
Paradigma tidak dipinjamkan berlangsung sampai Abad Pertengahan. Sebuah kisah mengatakan seorang pustakawan Bodley Library siang-siang meninggalkan perpustakaan. Ketika bertemu dengan rekannya, apa tujuannya keluar siang-siang, dia mengatakan untuk menagih satu-satunya buku yang dipinjam! Contoh buku tidak diperbolehkan keluar ruangan ialah buku yang dirante di Bodley Library.
Transformasi terjadi karena didorong oleh agen perubahan yang mampu mengubah pengetahuan sebelumnya dengan temuan baru yang berlawanan dengan pengetahuan sebelumnya. Perubahan paradigma di lingkungan perpustakaan terjadi sekitar Abad Pertengahan tatkala mesin cetak ditemukan. Bila sebelumnya materi perpustakaan berupa manuskrip harus ditulis tangan maka kini manuskrip dapat digandakan dengan mudah. Produksi buku meningkat sehingga menimbulkan paradigma baru. Paradigm a itu ialah perpustakaan berlomba-lomba mengolah buku yang dimilikinya. Abad 16 dan 17 ditandai dengan munculnya peraturan katalogisasi, baik menggunakan pendekatan kontinental maupun Anglo-Saxon. Antara kedua peraturan tersebut terjadi pertentangan yang berlangsung sampai abad 20. Paradigma mengolah buku (dalam arti luas) ini juga berpengaruh pada bidang pendidikan pustakawan termasukd i Indonesia., khususnya dalam mata kuliah Katalogisasi atau deksripsi bibliografi ataupun nama lain seperti organisasi informasi. Bila pada lembaga pendidikan negara maju mata kuliah semacam itu tidak lagi diajarkan, maka di Indonesia mata kuliah semacam itu masih mendominasi kurikulum pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi.
Menjelang paro pertama abad 20 terjadi perubahan paradigma menjadi perpustakaan berorientasi pada pemakai. Bila sebelumnya pengolahan materi perpustakaan menjadi kerangka pikir utama, maka kini pemakailah yang menjadi sasaran. Paradigma ini muncul karena tuntutan pemakai di satu sisi serta kesadaran pustakawan bahwa buku yang diolah harus ditujukan kepada pemakai serta munculnya teknologi informasi untuk perpustakaan.. Paradigma ini ditandai dengan munculnya berbagai kegiatan yang berorientasi pada pemakai seperti pendidikan pemakai dengan berbagai nama.
Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 diikuti dengan munculnya Internet bagi umum. Bila sebelumnya Internet lebih ditujukan untuk kepentingan militer, maka pasca-runtuhnya Uni Soviet ditujukan untuk publik. Keberadaan Internet merupakan pendorong munculnya paradigma baru yaitu akses sama penting atau lebih penting daripada besaran koleksi.
Internet mengubah paradigma layanan perpustakaan katena kini pemakai dapat langsung menelusur informasi tanpa bantuan perpustakaan. Kemampuan tersebut sering menimbulkan pertanyaan apakah perpustakaan akan lenyap akibat Internet. Berbagai makalah menunjukkan bahwa Internet tidak akan mampu menggusur perpustakaan, malahan Internet melengkapi perpustakaan (Herring, 2001; Herring, 2001; Top, 1995)
Paradigma kini ialah perpustakaan menyediakan akses di samping koleksi. Perpustakaan merupakan perantara antara universum informasi
Praktis semua fungsi perpustakaan di atas menekankan peran perpustakaan sebagai “perantara” antara pemakai dengan sumber daya informasi yang tersedia secara potensial untuk memungkinkan pemakai menggunakan dan memperoleh akses terhadap sumber informasi. Istilah ‘perantara’ di sini tidaklah berarti bahwa perpustakaan merupakan tembok yang membatasi antara pemakai dengan sumber informasi melainkan dalam arti perpustakaan menyediakan prosed dan prosedur yang memungkinkan pemakai mengakses dan menggunakan informasi. Tanpa tersedianya proses dan prosedur yang digunakan perpustakaan maka pemakai akan sangat sulit atau malahan tidak mungkin mengakses dan menggunakan informasi. Sebagai contoh, pemakai sulit sekali mengetahui buku tertentu yang dimiliki perpustakaan tertentu tanpa menggunakan katalog (daftar koleksi bahan pustaka yang dimiliki sebuah perpustakaan) perpustakaan. Dengan menyediakan proses dan prosedur yang disediakan perpustakaan, maka perpustakaan memberi nilai tambah dalam bentuk penemun dan penggunaan informasi termasuk memungkinkan pemakai mengetahui sumber yang tidak dapat diketahui atau diakses tanpa bantuan perpustakaan; juga dengan cara demikian perpustakaan mampu menghemat waktu dan tenaga pemakai. Bila digambarkan nampak pada gambar 1.
Bila digambarkan nampak sebagai berikut
Perpustakaan sebagai perantara
| Pemakai à | n - - - - - - - - - - - - - n <--perpustakaan à n | ßUniversum informasi |
Mungkin istilah peran perantara perpustakaan sedikit membingungkan pembaca. Di samping istilah perantara atau intermediary masih ada istilah lain sebagai berikut:
Agen menekankan bahwa perpustakaan bertindak atas nama pemakai bergerak keluar untuk menemukan informasi yang relevan, mengemas ulang dan meyajikannnya kepada pemakai. Hal tersebut analog dengan agen real estat yang mengetahui seluk beluk pemasaran perumahan dan mencoba menemukan rumah yang cocok sesuai dengan keinginan pembeli. Masalah yang ada dengan istilah agen ini ialah pertama istilah tersebut digunakan untuk perangkat lunak yang menelusur Web dan kedua dalam dunia nyata seringkali tidak jelas siapakah sesungguhnya yang dilayani agen, apakah calon pembeli ataukah dirinya sendiri.
Guide atau pemandu yang menekankan pada membantu pemakai menemukan cara terbaik dalam belantara inormasi dan pada akses infromasi dan penggunaannya sebagai proses belajar. Gagasan pemandu ialah pemakai mampu mengejar informasi dan belajar asal saja mereka diberi panduan yang tepay dan bimbingan pada waktu yang sesuai. Namun hal tersebut mengabaikan peranan informasi dan system informasi.
Mediator memberi gagasan bahwa perpustakaan melindungi pemakai perpustaakan dari sumber informasi yang tak terstruktur dan amat luas dan mediator menafsirkan kebutuhan pemakai dan secara selektif membatasi bahan pustaka bagi pemakai. Gagasan tersebut sama sekali mengabaikan peranan pengorganisasian isi dan system informasi.
Broker atau pialang atau makelar menggambarkan penggunaan kepakaran pialang atas nama pemakai untuk memperoleh sebuah produk. Hal tersbeut analog dengan makelar yang mencarikan barang untuk seorang konsumen atau pialang saham yang memberikan nasehat investasi dan mampu memperoleh saham atau produk investmen lainnya atas nama klien. Untuk sector lain, istilah broker memiliki konotasi komersial, juga dianggap sama sempitnya dengan pemandu.
Gateway atau pintu gerbang yang menggambarkan bahwa perpustakaan bertindak sebagai pintu masuk ke sumber daya informasi. Masalah pertama dengan istilah gateway ialah perpustakaan tidak hanya menyediakan pintu agar pemakai dapat lewat ke berbagai sumber daya informasi. Kedua, istilah gateway digunakan dalam jasa informasi berjaring yang menganggap gateway sebagai tempat maya yang menyediakan penunjuk ke sumber daya informasi.
Maka tidak ada istilah yang disepakati sehingga makalah ini memutuskan pemakaian istilah perantara untuk kemudahan.
Waktu untuk perubahan paradigma
Perubahan dari satu paradigma ke paradigma baru tidak selalu sama. Hal itu tergantung pada pada agen perubahan yang menyebabkan terjadinya metamorfosa dari hal sebelumnya dengan hal baru. Perubahan paradigma perpustakaan dari pengumpulan materi perpustakaan ke pengolahan memerlukan waktu hampir 2000 tahun. Perubahan paradigma dari pengolahan ke orientasi pemakai memerlukan waktu hampir 400 tahun, sebaliknya dari orientasi pemakai ke akses memerlukan waktu kurang dari 40 tahun.
Gejala tersebut tidak berbeda dengan gejala makin singkatnya waktu antara sebuah invensi hingga ke produksi massal. Bila dulu sebuah invensi memerlukan puluhan tahun untuk mencapai produksi massal, maka kini waktu antara sebuah invensi sampai ke produksi massal dapat berlangsung dalam ukuran tahunan ataupun kurang dari 1 tahun. Hal ini nampak jelas pada bidang teknologi informasi.
Penutup
Bila melihat paradigma perpustakaan selama hampir 5000 tahun, maka paradigmaawal ditandai dengan upaya pengumpulan materi perpustakaan sebanyak-banyaknya, selanjutnya berubah menjadi pengolahan materi perpustakaan. Paradigma ini berubah menjadi orientasi pada pemakai selanjutnya kini paradigma baru berupa akses sama penting atau lebih penting daripada besaran koleksi. Paradigma terkini itu menandai ciri perpustakaan masa kini.
Bibliografi
Boone, Morell D. (2003). Monastery to marketplace: a paradigm shift. Library Hi
tech, 21 (3):358-366
Herring, Mark Y. (2001). 10 reasons why the Internet is no substitute for a library.
American Libraries , 32 (4) April:76-78
Herring, Mark Y. Why the Internet can’t replace the library. The Education Digest,
67 (1) september:46-49
Huntington, S. (1996). The clash of civilizations and the remaking of world order. New
York,NY: Perennial
Kuhn, T.S.(1970). Th structure of scientific revolutions. 2nd ed. Chicago, University
of Chicago Press
Moyo, Lesley M. (2004). Electronic libraries and the emergence of new service
paradigms. The Electronic Library, 22 (3):220-230
Sulistyo-Basuki (2007). iPengantar ilmu perpustakaan dan informasi. Naskah,
dalam proses penerbitan
Top ten reasons the Internet will not replace public libraries. (1995.
http://list.webjunction.org/wjlists/publib/1995-March/06827.html.
Diunduh 17 November 2007